3.Reklamasi Tambang Untuk Menunjang Pengusahaan Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan

3. REKLAMASI TAMBANG UNTUK MENUNJANG PENGUSAHAAN PERTANIAN TANAMAN PANGAN DAN  PERKEBUNAN

Purwono

Staf Ahli Pusdi Reklatam, Staf Pengajar Departemen AGH-Faperta IPB

ABSTRAK

Pengusahaan tanaman pertanian sangat tergantung pada ketersediaan lahan yang sesuai dengan persyaratan tumbuh masing-masing tanaman yang akan diusahakan. Namun secara umum persyaratan untuk pengusahaan tanaman adalah topografi, kondisi media untuk perkembangan akar, keseimbangan unsur hara, dan ketersediaan air (jumlah dan kualitas).  Apabila faktor-faktor tersebut telah dipenuhi, tindakan budidaya akan dapat direncanakan dengan tepat.

Tanaman pangan memiliki persyaratan yang berbeda dengan tanaman perkebunan. Pada tanaman pangan kebutuhan media pada zona perakaran sangat menentukan, karena penyebaran perakaran tanaman pangan paling dominan adalah pada kedalaman 20-30 cm.  Selain itu tanaman pangan umumnya menghendaki tanah dengan reaksi tanah netral (pH antara 5-6,5).  Tanaman pangan dengan siklus hidup sekitar 3 -4 bulan menghendaki jumlah air yang terdistribusi merata sepanjang fase pertumbuhan dan perkembangannya.  Sementara itu tanaman perkebunan secara umum memiliki persyaratan tumbuh lebih longgar dibandingkan tanaman pangan.  Tanaman perkebunan masih boleh diusahakan pada areal dengan kemiringan sampai dengan 25% (catatan : untuk kelapa sawit sampai 15%).  Penyebaran hujan untuk tanaman perkebunan dihitung berdasarkan jumlah curah hujan tahunan dan distribusinya tiap bulanan. Khusus untuk kelapa sawit dikehendaki curah hujan tahunan antara 2.000-2.500 mm tanpa bulan kering 3 bulan kerturut-turut.

Kendala utama pengembangan tanaman pada areal bekas tambang adalah bentuk lansekap yang kurang baik, lapisan tanah (solum) yang kurang teratur, ketersediaan unsur hara yang kurang seimbang, kandungan bahan organik yang sangat rendah, suplai air yang sering kurang terjamin. Oleh sebab itu kegiatan budidaya akan dapat dilakukan jika areal bekas tambang telah direklamasi sehingga memenuhi persyaratan untuk pengusahaan tanaman yang akan dikembangkan.  Pengetahuan tentang persyaratan tumbuh tanaman pangan dan perkebunan mutlak diperlukan jika areal bekas tambang akan digunakan untuk pengembangan budidaya tanaman non kehutanan.

Berdasarkan aspek legalitas, areal tambang harus dikembalikan sesuai dengan status kawasan sebelum digunakan sebagai areal pertambangan.  Melihat dari aspek legalitas, tanaman karet adalah jenis tanaman perkebunan yang masuk dalam kriteria untuk hutan tanaman industri, sedangkan kelapa sawit masih dalam penggodogan untuk masuk dalam kriteria tanaman industri.  Sementara itu tanaman pangan merupakan tanaman yang sebaiknya ditaman sebagai tanaman sela pada saat tanaman utama belum menghasilkan dan tingkat naungan masih belum menghambat pertumbuhan tanaman pangan yang diusahakan.  Pengusahaan tanaman tanam pada awal pertumbuhan tanaman utama memiliki manfaat secara lingkungan tumbuh dan ekonomi.  Beberapa tanaman pangan memiliki sifat mampu menyuburkan tanah dan mampu memanfaatkan unsur nitrogen dengan bersimbosis dengan bakteri, yaitu kacangan.  Oleh sebab itu sangat disarankan pengusahaan tanaman kacangan dalam program pengembangan areal bekas tambang.  Tanaman serealia (jagung dan padi) relatif membutuhkan persyaratan tumbuh yang lebih sulit, sehingga kemungkinan tidak berhasil jika ditanam di awal pengusahaan setelah reklamasi sangat besar.

Pengalaman pengembangan tanaman perkebunan di beberapa areal bekas tambang yang berhasil dengan baik adalah jika lapisan tanah dapat dikembalikan sesuai syarat pertumbuhan tanaman dan penambahan bahan organik denan jumlah yang cukup.  Permasalahan unsur hara relatif mudah diatasi dengan pemupukan yang cukup dan teratur.  Namun di beberapa tempat kondisi tanaman hanya baik pada awal pertumbuhan, selanjutnya tanaman hidup merana.  Hal ini terjadi karena akar tanaman tidak mampu berkembang ke lapisan yang lebih dalam.  Penyebabnya adalah adanya lapisan keras di bagian bawah atau adanya kandungan pirit yang menghambat perkembanga akar.

Dari pengalaman di lapangan, untuk mengatasai masalah setelah reklamasi dilakukan adalah penambahan bahan organik dan usaha ameliorasi tanah agar tanaman terbebas dari unsur-unsur yang bersifat racun bagi tanaman.  Seberapa banyak dosis pupuk kandang dan seberapa tinggi pH tanah harus ditingkatkan sangat tergantung jenis tanah seberapa jaug “kerusakan” akibat kegiatan penambangan.  Suksesi alami memang akan terjadi pada areal bekas tambang, tetapi tanpa campur tangan usaha perbaikan lingkungan untuk kegiatan tanaman kondisi bekas tambang akan menimbulkan permasalahan yang sangat besar.  Prinsipnya proses reklamasi harus mampu mengembalikan kondisi areal minimum sama dengan kondisi sebelum kegiatan pertambangan dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar tambang.

Comments are closed.