4.Lesson Learned Reklamasi Tambang Untuk Ekowisata

4. LESSON LEARNED REKLAMASI TAMBANG UNTUK (EKO)WISATA

Hadi Susilo ARIFIN

Staf Kepala Bagian Manajemen Lanskap – Departemen Arsitektur Lanskap

Fakultas Pertanian – Institut Pertanian Bogor

ABSTRAK

Indonesia, merupakan salah satu Negara yang menghasilkan berbagai bahan tambang. Produksi tersebut juga menghasilkan bahan limbah, antar lain sludge yang mengandung berbagai jenis limbah berbahaya sepert: hydrocarbon, phenol, dan logam berat. Lahan bekas pertambangan menyisakan lubang-lubang besar yang menganga dan terbuka. Kondisi lanskap gundul yang sangat buruk dapat diperparah saat musim hujan yang dapat mengakibatkan runoff, erosi, serta menghasilkan sedimentasi pada bagian lanskap yang ada di bawahnya. Lubang-lubang galian tambang yang menganga jelas merupakan pencemaran visual bagi pemandangan lanskap. Penggundulan hutan untuk pembukaan eksplorasi tambang mengakibatkan hutan alami hilang, yang berarti biodiversitas menurun secara drastis. Jika kondisi tersebut dibiarkan setelah pasca tambang maka kerusakan lingkungan bukan hanya terjadi pada lokasi/tapak pertambangan akan tetapi akan berdampak negatif pada kawasan di sekitarnya. Industri tambang dituntut untuk mampu mengembalikan lahan bekas tambang ke kondisi yang sesuai dengan persyaratan tataguna lahan, misal dengan teknik bioremediasi. Selanjutnya hasil reklamasi lahan bekas tambang dapat direncanakan serta dikelola antara lain untuk pengembangan kawasan rekreasi untuk tujuan wisata. Pengembangan dan pengelolaannya perlu direncanakan secara terintegrasi secara ekologis, ekonomis dan kultural.  Konsep umum dalam pengembangan lanskap bekas pertambangan adalah tersedianya keragaman lanskap baik bersifat terrestrial maupun akuatik. Sehingga pemanfaatan kubangan besar dijadikan lanskap danau, situ atau kolam besar sebagai badan air yang dikombinasikan dengan RTH. Pemanfaatan lanskap tersebut untuk fungsi perlindungan tanah & air, konservasi biodiversity, penyimpanan Carbon dan keindahan lanskap bagi fungsi kenyamanan & estetika lingkungan. Oleh karena itu diperlukan desain lanskap dengan basis pengelolaan yang berkelanjutan.

Comments are closed.